Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ben de Groot

Dunia Kata

January 7, 2008

Kena marah, emang enak?

Filed under: Curhat

ambek

Saat itu aku, Ega, Devi, Anti, dan Ida berencana kerja kelompok Bahasa Sunda di rumah Anti.
Dari sekolah kami berlima jalan kaki menuju rumah Anti. Saat kami melewati gang, terdengar dari belakang suara klakson sebuah motor. Karena kami asyik ngobrol, boro-boro minggir, kami acuh aja. Kemudian sambil melaju ibu-ibu pengendara motor itu mengucapkan kata-kata yang mencerminkan dirinya marah. Mendengar itu, siapa coba yang tidak tersinggung? Tapi…ya kami cuma bisa menggerutu. Tiba-tiba Ega melawan marahnya Si ibu tersebut. Si ibu beserta motornya pun berhenti, tak jauh dari kami. Ia turun dari motornya menghampiri kami. Dari situ kami semua udah mulai deg-degan. Dalam pikiranku ibu-ibu itu akan memarahi kami. Ia pun menghampiri aku dan Anti. Dia bertanya, “Siapa tadi yang ngomong?”
Otomatis kami diam, mati kutu! Tak disangka Ega mengacungkan tangannya dan berkata, “Sayalah yang tadi ngomong!” Si Ibu lalu menghampiri Ega. Mereka berhadap-hadapan. Terjadilah percekcokan itu. Melihat itu, kami tidak bisa membantu Ega. Teman Si Ibu mencoba meredakan kemarahannya. Tapi percekcokan itu berlangsung lama, sampai akhirnya Ega meminta maaf pada Si Ibu. Dan percekcokan pun berhenti. Si Ibu kembali mengendarai motornya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Anti. Kami baru sadar bahwa teman kami seorang lagi, Ida, menghilang dari tadi, entah ke mana. Ternyata, menurut pengakuannya, saat Ega cekcok dengan Si Ibu, Ida kabur saking takutnya.
Masih di jalan itu, kita bertemu lagi dengan Si ibu yang tadi marah. Di sedang duduk di atas motornya di depan rumahnya. Lalu dia bilang, “Kalau mau dilanjutkan, di sini di rumah saya!” Apa sih maksudnya?
Sesampainya di rumah Anti, kita bukannya kerja kelompok malah nyeritain pengalaman tadi. Kalau saja tadi Ega tidak melawan, tidak akan kejadian kaya gini deh. Ega, pake ngaku lagi pas ditanya, siapa yang ngomong kasar sama Si ibu. Kalau saya, meureun moal ngaku da. Kajeun patuduh-tuduh

January 2, 2008

Antara Kenangan dan Harapan

Filed under: Curhat

lazuardi

Selamat tinggal 2007
Tahun 2007 untukku banyak meninggalkan kesan, di antaranya berpisah dengan anak-anak kelas 8 F yang terkenal badung-badung itu. Tapi kami semua sudah merasa, kelas F itu rumah kedua kami. Tiada hari tanpa bercanda dan diomelin guru-guru. Masih ingat, guru Bahasa Indonesia setiap masuk ke kelas F selalu dibuat kesal oleh sekelompok anak. Kelas kami waktu itu mencetak rekor sebagai kelas yang siswanya terbanyak dalam hal absensi atau ketidak hadirannya.
Setelah itu aku duduk di kelas yang 9 yang sebagian besar anak-anaknya baru. Awalnya terasa asing, karena mereka berasal dari kelas berbeda. Tapi lama-lama kami bisa akrab juga. Perasaan enjoy seperti saat duduk di kelas 8 F kini terulang lagi.

Selamat Datang 2008
Dalam menghadapi tahun 2008 banyak harapanku yang ingin dicapai, di antaranya:
Aku ingin bisa lulus UN dengan nilai yang baik. Tapi sekarang mata pelajaran yang di-UN-kan ditambah satu, selain Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, sekarang ada mata pelajaran sains (IPA), nilai standar kelulusan pun naik. Jadi aku makin deg-degan. Kalau lulus, inginnya sih melanjutkan ke SMA negeri. Aku sangat berharap semoga di tahun 2008 ini, aku diberi kesehatan, amin.

November 19, 2007

Ditest Bahasa Inggris

Filed under: Curhat

sop buah

Pada waktu pelajaran Bahasa Inggris, kami mendapat tugas speaking, yaitu membuat procedure (menerangkan cara-cara membuat makanan) menggunakan bahasa Inggris, dan dipraktekkan di depan teman-teman perkelompok. Kelompokku berencana membuat sandwich. Tapi kayanya step (langkah-langkah) dalam membuat makanan itu sedikit, sedangkan anggota kelompokku 6 orang. Akhirnya kami merencanakan membuat sop buah. Oleh guru Bahasa Inggris kami diberi waktu 2 minggu untuk latihan.
Sehari sebelum tampil kelompok kami malah baru nulis teks dan bahan-bahannya. Buah-buahan yang diperlukan kami pesan ke Nisa, coz rumahnya dekat dengan tukang buah. Barang-barang yang diperlukan juga rencananya Nisa yang sanggup bawa, karena Nisa punya barang-barang itu sepaket. Karena itu ya kami jadi tenang dong, sudah ada yang sanggup membawa semuanya. Jadi kami tinggal menghapal step-step-nya untuk tampil. (more…)

November 5, 2007

Razia Mendadak

Filed under: Curhat

the students

Pada hari Jumat, 2 November 2007 di sekolahku tiba-tiba ada razia mendadak. Sejak Bu Utju (PKS kesiswaan) berjalan menuju kelas, anak-anak sudah cemas. Banyak yang merapikan bajunya. Paling riweuh anak-anak cowok, mereka merapikan rambutnya yang jabrig agar tidak kena razia. Bahkan banyak siswa yang meminta agar pintu kelasnya ditutup, supaya Bu Utju tidak masuk ke kelasnya. Ketika Bu Utju berjalan semakin mendekati kelas, sang Ketua Murid kelas 9 B malah lari keluar kelas diikuti oleh anak-anak cowok lainnya. Pada saat Bu Utju melihat keadaan kelas yang jumlah siswanya berkurang, dia marah kepada anak-anak yang berada di dalam kelas.
Kemudian Bu Utju mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Otomatis, anak-anak yang tersisa di dalam kelas merasa kaget. Pengguntingan rambut anak laki-laki pun dimulai. Yang pertama kena razia rambut bernama Anggi. Dilanjutkan dengan merazia anak-anak yang lainnya. Kemudian KM (Bachtiar) dan para pengikutnya kembali dari persembunyiannya dengan keadaan rambut mereka yang basah kuyup, karena disengaja basah biar terlihat lebih pendek. Tapi walaupun rambut mereka telah dibasahi, mereka tetap kena razia juga. Malah mendapat bonus berupa omelan dari Bu Utju. Katanya: “Mana bisa kalian belajar dalam keadaan rambut berkeringat seperti ini!” Padahal rambut mereka basah bukan karena keringat, tapi sengaja dibasahi air di tempat wudu depan mushola.
Akhirnya Bu Utju keluar kelas. Anak-anak pada kecewa atas tindakan beliau, apalagi anak laki-laki yang sudah susah-susah manjangin rambutnya. Sekarang kan lagi musimnya rambut berponi panjang. Tapi anak-anak perempuan malah ketawa, karena rambut teman-teman cowok itu jadi kelihatan aneh setelah digunting asal-asalan oleh Bu Utju (jadi torombol).
Nasib Rona lebih menyedihkan lagi. Dia kena razia sepatu, sebab dia memakai sepatu putih. Aturan sekolah, setiap siswa harus memakai sepatu hitam. Padahal Aris juga pakai sepatu putih tapi tidak kena razia, sebab waktu Bu Utju datang dia keburu kabur dari kelas. Terus Adela yang rambutnya disemir merah juga tidak kena razia, karena keburu kabur juga. Mungkin nasib kedua anak ini lagi bagus aja ya!

September 8, 2007

My Teachers

Filed under: Curhat

guruku

Guru yang masuk ke kelasku lumayan banyak, dengan cara mengajar mereka yang berbeda-beda. Mulai dari guru yang mengajar asal-asalan sampai dengan guru yang mengajar tepat waktu.
Guru IPS cara mengajarnya menggunakan media internet. Terkadang siswa hanya disuruh menonton mengenai pelajaran IPS, meni baroring. Apa lagi kalau gurunya sudah bercerita di kelas, duh rarieut!
Guru Biologi teu puguh ngajarna, nggak ngerti lah.
Guru Bahasa Indonesia sok kasiangan, kaluman. Ongkoh sudah bikin perjanjian sama kita-kita kalau kesiangan, pintu kelas akan dikunci. Tapi si ibu ada saja alasannya, biar sama kita nggak jadi dihukum.
Sebaliknya guru Matematika, selalu masuk tepat waktu, tapi waktu keluarnya melebihi jam istirahat. Ada lagi guru Bahasa Inggris, sebelum masuk rariweuh ngurus kebersihan kelas. Sampai-sampai waktu belajar dipakai untuk beberesih. Lain lagi guru Bahasa Sunda, terlalu nyantai, tapi enak juga ke kitanya gak banyak tugas. Kalau guru Fisika kayanya lebih enak guru Fisika waktu aku kelas 8. Soalnya guru Fisika yang sekarang ngocoblak sendiri, kita cuma bengong. Sekarang tentang guru Penjas (Pendidikan jasmani). Rata-rata mereka baik. Kalau kita nggak bisa ngikutin tetap diajarin. Dari semua guru yang pernah mengajarku, aku menyukai guru Fisika kelas 8, karena aku rasa cara mengajarnya membuat kita enjoy.
Selain guru yang disukai, ada juga guru yang kurang gimana...gethu! Guru PKN Kalau ngasih tugas teu asa-asa, jadi kaya nganggap otak kita itu komputer, yang tinggal suruh langsung hapal. Terus, masa baru dua kali masuk kelas sudah ngadain ulangan. Lagian waktu dua kali masuk kelas kita itu ngajarnya cuma gitu-gitu doang, belum ada materi. Waktu dia masuk lagi cuma numpang marah-marah. Duch, kenapa sech!