Kena marah, emang enak?

Saat itu aku, Ega, Devi, Anti, dan Ida berencana kerja kelompok Bahasa Sunda di rumah Anti.
Dari sekolah kami berlima jalan kaki menuju rumah Anti. Saat kami melewati gang, terdengar dari belakang suara klakson sebuah motor. Karena kami asyik ngobrol, boro-boro minggir, kami acuh aja. Kemudian sambil melaju ibu-ibu pengendara motor itu mengucapkan kata-kata yang mencerminkan dirinya marah. Mendengar itu, siapa coba yang tidak tersinggung? Tapi…ya kami cuma bisa menggerutu. Tiba-tiba Ega melawan marahnya Si ibu tersebut. Si ibu beserta motornya pun berhenti, tak jauh dari kami. Ia turun dari motornya menghampiri kami. Dari situ kami semua udah mulai deg-degan. Dalam pikiranku ibu-ibu itu akan memarahi kami. Ia pun menghampiri aku dan Anti. Dia bertanya, “Siapa tadi yang ngomong?”
Otomatis kami diam, mati kutu! Tak disangka Ega mengacungkan tangannya dan berkata, “Sayalah yang tadi ngomong!” Si Ibu lalu menghampiri Ega. Mereka berhadap-hadapan. Terjadilah percekcokan itu. Melihat itu, kami tidak bisa membantu Ega. Teman Si Ibu mencoba meredakan kemarahannya. Tapi percekcokan itu berlangsung lama, sampai akhirnya Ega meminta maaf pada Si Ibu. Dan percekcokan pun berhenti. Si Ibu kembali mengendarai motornya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Anti. Kami baru sadar bahwa teman kami seorang lagi, Ida, menghilang dari tadi, entah ke mana. Ternyata, menurut pengakuannya, saat Ega cekcok dengan Si Ibu, Ida kabur saking takutnya.
Masih di jalan itu, kita bertemu lagi dengan Si ibu yang tadi marah. Di sedang duduk di atas motornya di depan rumahnya. Lalu dia bilang, “Kalau mau dilanjutkan, di sini di rumah saya!” Apa sih maksudnya?
Sesampainya di rumah Anti, kita bukannya kerja kelompok malah nyeritain pengalaman tadi. Kalau saja tadi Ega tidak melawan, tidak akan kejadian kaya gini deh. Ega, pake ngaku lagi pas ditanya, siapa yang ngomong kasar sama Si ibu. Kalau saya, meureun moal ngaku da. Kajeun patuduh-tuduh